"Tok Munir"
Pagi
ini aku ada jadwal perkuliahan. Rasanya sangat malas sekali karena cuaca yang
sangat panas, ditambah lagi dengan kampusku yang sangat jauh dan membutuhkan waktu
30 menit untuk sampai disana. Sebelum pergi, seperti biasa aku ke kamar atok.
Orang-orang sering memanggilnya tok Munir. Setelah perceraian orang tuaku 10
tahun yang lalu, aku dirawat dan diasuh oleh atok. Ayahku sudah menikah lagi,
sedangkan ibuku tinggal bersama adikku di rumahnya. Atok hanya tinggal bersam ku
dan anak bungsunya yang belum menikah setelah kepergian istrinya beberapa tahun
silam. Karena kami suku Minang, aku memanggil anak bungsu atok dengan sebutan
etek/tek yang berarti tante.
Aku
masuk ke kamarnya untuk melihat keadaannya karena beberapa hari ini ia sakit.
“Tok,
bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku
“Alhamdulillah
sudah mendingan” jawabnya
“Syukurlah.
Kalau begitu Natalia berangkat kuliah dulu ya tok” (sambil mencium tangan atok)
“Iya,
hati-hati”
Beberapa hari ini atok hanya terbaring
lemah di kamarnya. Hal ini yang membuatku gelisah saat aku tidak berada di
rumah karena atok hanya sendirian di rumah. Anak bungsunya yang bernama Lita
pun harus bekerja setiap hari dari pagi hingga sore hari.
Aku baru saja pulang dari kampus. Sore
ini keadaan atok terlihat lebih membaik dari sebelumnya. Ia memintaku untuk
membeli indomie di warung. Aku bingung, karena selama aku tinggal bersamanya
aku dan tek lita tidak dibolehkan memakan indomie instan oleh atok. Mungkin
dalam waktu sebulan kami hanya 2 kali memakan indomie instan. Itu pun tanpa
sepengetahuan atok.
Hari sudah malam, tiba-tiba atok
memanggil dan mengajak kami berdua untuk memakan indomie buatannya. Tentu saja
kami merasa kaget dan heran. Dan akhirnya kami bertiga makan bersama di ruang
makan.
Sehabis makan, setelah mencuci
piring, atok memintaku memijat bagian kakinya. Aku sudah mengantuk dan rasanya
ingin tidur. Sudah 1 jam lebih aku mimijat kakinya, namun belum ada tanda-tanda
untuk disuruh berhenti. Padahal aku sangat lelah. Biasanya ia memintaku
memijatnya hanya sekitar 15 menit. Tapi ternyata tidak untuk hari ini.
Lagi-lagi aku harus kuliah pagi.
Seperti biasa, sebelum berangkat ke kampus, aku ke kamar atok untuk melihat
keadaannya dan berpamitan. Hari ini aku tidak terlalu gelisah karena ada tek
Lita yang menjaganya di rumah.
Sungguh ini hari yang sangat
melelahkan. Baru saja sampai rumah, atok memintaku untuk memijat punggungnya di
ruang tengah. Tentu saja aku turuti walaupun aku merasa sangat lelah. Ia
memintaku menempelkan daun jarak di punggungnya untuk menurunkan panas tubuhnya.
Hari ini tubuhnya benar-benar terasa panas. Setelah selesai, aku ke dapur untuk
mencuci piring dan memasak nasi.
“Natalia,
coba lihat ke ruang tengah” bisik tek Lita tiba-tiba
“Memangnya
ada apa?” tanyaku
Langsung saja aku menuju ruang
tengah. Ternyata ada aroma yang tidak sedap karena lantai di ruang tengah
hingga ke kamar atok ada kotoran atok. Sungguh ini mengejutkan dan menyebalkan
karena kami harus membersihkan lantai itu. Kami tidak tahu apa yang telah
terjadi. Kami pun langsung membersihkan kotoran tersebut yang berceceran di
antai ruang tengah.
Setelah itu, aku dan tek Lita ingin
melihat keadaan atok di kamarnya. Tetapi, tidak sengaja kami melihatnya sedang
duduk di atas kasur tanpa pakaian. Kami tidak jadi menghampirinya karena tidak
ingin mengganggunya.
Lalu, aku melanjutkan tugasku untuk mencuci
piring dan memasak nasi. Tek Lita sedang memasak bubur untuk ayahnya. Beberapa
saat kemudian bubur itu sudah matang dan ia pun langsung menuju ke kamar
ayahnya untuk menyuapinya.
Setelah menyelesaikan tugasku, aku
duduk di dapur untuk beristirahat sebentar. Tiba-tiba…………..
“Natalia….Natalia!!!!!!”
teriakan tek Lita memanggilku.
Aku
kaget dan langsung berlari menuju kamar atok. Aku masuk ke kamarnya dan melihat
atok terbaring yang sudah tidak sadarkan diri.
“Ayah…jangan
pergi dulu” kata tek Lita sambil terisak tangis.
“Atok,
atok kenapa? Bangun tok, istigfar” kataku sambil mmegang tangannya.
Kami berdua panik. Langsung saja aku
memberi kabar kepada ibuku.dan berlari keluar rumah untuk meminta bantuan
tetangga. Kami membawa atok ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku merasa tidak
tenang, begitu juga dengan tek Lita yang terus menangis meneteskan air mata.
Setelah tiba di rumah sakit, atok dibawa ke ruang UGD. Kami hanya bisa berdoa
meminta tolong kepada Allah Swt.
Dan
ternyata atok sudah dipanggil oleh Allah Swt. Spontan kami langsung menangis.
Rasanya sudah tidak terbendung lagi. Selama aku dirawatnya 10 tahun, aku belum
pernah mengucapkan terimakasih kepadanya atas semua kebaikan yang ia berikan
untukku. Rasanya ingin sekali aku membangunkannya dan berharap ia kembali
hidup, tapi itu semua mustahil dan tidak akan mungkin terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar