Selasa, 17 Mei 2016

Cerpen 1 (karya sendiri)

"Tok Munir"


Pagi ini aku ada jadwal perkuliahan. Rasanya sangat malas sekali karena cuaca yang sangat panas, ditambah lagi dengan kampusku yang sangat jauh dan membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai disana. Sebelum pergi, seperti biasa aku ke kamar atok. Orang-orang sering memanggilnya tok Munir. Setelah perceraian orang tuaku 10 tahun yang lalu, aku dirawat dan diasuh oleh atok. Ayahku sudah menikah lagi, sedangkan ibuku tinggal bersama adikku di rumahnya. Atok hanya tinggal bersam ku dan anak bungsunya yang belum menikah setelah kepergian istrinya beberapa tahun silam. Karena kami suku Minang, aku memanggil anak bungsu atok dengan sebutan etek/tek yang berarti tante.
Aku masuk ke kamarnya untuk melihat keadaannya karena beberapa hari ini ia sakit.
“Tok, bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku
“Alhamdulillah sudah mendingan”  jawabnya
“Syukurlah. Kalau begitu Natalia berangkat kuliah dulu ya tok” (sambil mencium tangan atok)
“Iya, hati-hati”
            Beberapa hari ini atok hanya terbaring lemah di kamarnya. Hal ini yang membuatku gelisah saat aku tidak berada di rumah karena atok hanya sendirian di rumah. Anak bungsunya yang bernama Lita pun harus bekerja setiap hari dari pagi hingga sore hari.
            Aku baru saja pulang dari kampus. Sore ini keadaan atok terlihat lebih membaik dari sebelumnya. Ia memintaku untuk membeli indomie di warung. Aku bingung, karena selama aku tinggal bersamanya aku dan tek lita tidak dibolehkan memakan indomie instan oleh atok. Mungkin dalam waktu sebulan kami hanya 2 kali memakan indomie instan. Itu pun tanpa sepengetahuan atok.
            Hari sudah malam, tiba-tiba atok memanggil dan mengajak kami berdua untuk memakan indomie buatannya. Tentu saja kami merasa kaget dan heran. Dan akhirnya kami bertiga makan bersama di ruang makan.
            Sehabis makan, setelah mencuci piring, atok memintaku memijat bagian kakinya. Aku sudah mengantuk dan rasanya ingin tidur. Sudah 1 jam lebih aku mimijat kakinya, namun belum ada tanda-tanda untuk disuruh berhenti. Padahal aku sangat lelah. Biasanya ia memintaku memijatnya hanya sekitar 15 menit. Tapi ternyata tidak untuk hari ini.
            Lagi-lagi aku harus kuliah pagi. Seperti biasa, sebelum berangkat ke kampus, aku ke kamar atok untuk melihat keadaannya dan berpamitan. Hari ini aku tidak terlalu gelisah karena ada tek Lita yang menjaganya di rumah.
            Sungguh ini hari yang sangat melelahkan. Baru saja sampai rumah, atok memintaku untuk memijat punggungnya di ruang tengah. Tentu saja aku turuti walaupun aku merasa sangat lelah. Ia memintaku menempelkan daun jarak di punggungnya untuk menurunkan panas tubuhnya. Hari ini tubuhnya benar-benar terasa panas. Setelah selesai, aku ke dapur untuk mencuci piring dan memasak nasi.
“Natalia, coba lihat ke ruang tengah” bisik tek Lita tiba-tiba
“Memangnya ada apa?” tanyaku
            Langsung saja aku menuju ruang tengah. Ternyata ada aroma yang tidak sedap karena lantai di ruang tengah hingga ke kamar atok ada kotoran atok. Sungguh ini mengejutkan dan menyebalkan karena kami harus membersihkan lantai itu. Kami tidak tahu apa yang telah terjadi. Kami pun langsung membersihkan kotoran tersebut yang berceceran di antai ruang tengah.
            Setelah itu, aku dan tek Lita ingin melihat keadaan atok di kamarnya. Tetapi, tidak sengaja kami melihatnya sedang duduk di atas kasur tanpa pakaian. Kami tidak jadi menghampirinya karena tidak ingin mengganggunya.
            Lalu, aku melanjutkan tugasku untuk mencuci piring dan memasak nasi. Tek Lita sedang memasak bubur untuk ayahnya. Beberapa saat kemudian bubur itu sudah matang dan ia pun langsung menuju ke kamar ayahnya untuk menyuapinya.
            Setelah menyelesaikan tugasku, aku duduk di dapur untuk beristirahat sebentar. Tiba-tiba…………..
“Natalia….Natalia!!!!!!” teriakan tek Lita memanggilku.
Aku kaget dan langsung berlari menuju kamar atok. Aku masuk ke kamarnya dan melihat atok terbaring yang sudah tidak sadarkan diri.
“Ayah…jangan pergi dulu” kata tek Lita sambil terisak tangis.
“Atok, atok kenapa? Bangun tok, istigfar” kataku sambil mmegang tangannya.
            Kami berdua panik. Langsung saja aku memberi kabar kepada ibuku.dan berlari keluar rumah untuk meminta bantuan tetangga. Kami membawa atok ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku merasa tidak tenang, begitu juga dengan tek Lita yang terus menangis meneteskan air mata. Setelah tiba di rumah sakit, atok dibawa ke ruang UGD. Kami hanya bisa berdoa meminta tolong kepada Allah Swt.
Dan ternyata atok sudah dipanggil oleh Allah Swt. Spontan kami langsung menangis. Rasanya sudah tidak terbendung lagi. Selama aku dirawatnya 10 tahun, aku belum pernah mengucapkan terimakasih kepadanya atas semua kebaikan yang ia berikan untukku. Rasanya ingin sekali aku membangunkannya dan berharap ia kembali hidup, tapi itu semua mustahil dan tidak akan mungkin terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar