Long Distance Relationship
Arsyi terbangun karena
terkejut melihat sang ibu sedang salat di kamarnya. Ternyata waktu sudah
menunjukkan pukul 05.05 wib. Arsyi pun lalu terbangun dan bersiap melaksanakan
salat subuh. Setelah salat subuh, ia mengecek ponsel miliknya kali saja ada
pesan masuk dari Fadlan. Ternyata tidak ada pesan masuk. Sudah 3 hari mereka
tidak saling berkomunikasi. Fadlan adalah kekasihnya. Mereka sudah menjalani sebuah
hubungan selama 1 tahun sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Sudah 4 bulan
ini mereka menjalani hubungan jarak jauh atau yang disebut Long Distance
Relationship (LDR) antara Jakarta-Bandung untuk melanjutkan pendidikan mereka
masing-masing. Sebulan terakhir ini mereka sudah tidak lagi menjalin hubungan
yang harmonis seperti biasanya. Hubungan mereka seperti sudah diujung jalan
yang tak tau menau kemana arah jalannya lagi setelah pertengkaran antara
keduanya. Karena itulah akhir-akhir ini Arsyi menjadi murung dan galau seperti
remaja yang lainnya.
“Arsyi, sarapan dulu nak”
teriak ibunya kepada Arsyi.
“Iya ma, bentar” jawab
Arsyi.
Karena kegelisahannya, ia
slalu mengecek handphonenya seperti berharap ada pesan masuk dari Fadlan.
“Eh lo sarapan dulu deh
jangan main hp mulu, ntar kuliah lo telat.” ucap kakaknya kepada Arsyi.
“Hm..” jawab Arsyi sambil
tersenyum sinis.
“Eh gimana kabar Fadlan?
Lancar gak ldrnya?”
“Gak tau deh, gue
pusing.”
“Tuhkan, udah gue blng
ldr itu emang gak enak.”
Arsyi tidak menjawab dan
langsung berangkat kuliah. Sepanjang perjalanan Arsyi termenung sambil terus
berfikir bagaimana caranya agar hubungan mereka bisa bertahan. Ia tetap slalu
melihat ponselnya menunggu pesan masuk dari Fadlan. Ia sebagai wanita, gengsi
untuk mengirimkan pesan terlebih dahulu. Namun jauh dilubuk hatinya, ia sangat
merindukan Fadlan.
Setelah sampai di kampus,
Arsyi langsung masuk ke dalam kelas dan memainkan game yang ada diponselnya.
“Syi!!” teriak Caca yang
berada di depan pintu kelas.
Arsyi terkejut dan
langsung tersenyum ke arah Caca.
“Gimana syi? Lo udah
baikan sama Fadlan?” tanya Caca ketika duduk disamping Arsy.
“Ya gitu deh ca. Gue
sendiri juga nungguin dia ngabarin gue. Tp setelah pertengkaran yang kemarin
dia gak ada hubungin gue. Sebenernya gue gak mau berantem, apa lagi kalau udah
beda kota gini, kan jadi susah. Biasanya kalau masih sekota kan bisa ketemu
langsung terus baikan.” Jawab Arsyi.
“Kenapa gak lo aja yang
hubungin dia duluan?”
“Kan posisinya gue yang
lagi marah sama dia.”
“Yaudah lo tunggu aja deh
dia hubungin lo.”
“Kalau sampai besok dia
masih gak hubungin gue, gue yang bakal hubungin dia.”
“Jangan dipikirin banget
deh syi. Lo juga jangan bawa masalah ini ke perkuliahan lo.”
“Iya ca. Gue bisa
selesein.”
Sepulang
kuliah, tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Ia terkejut namun ia juga
senang dan merasa lega. Isi pesannya adalah “Jangan lupa makan dan salat.”
Arsyi hanya menjawab “Ya, kamu juga.” Lalu tidak ada balasan lagi dari Fadlan.
Arsyi pun tetap menunggu balasan pesan dari Fadlan.
Malam
harinya Fadlan mengirimkan pesan kepada Arsyi. Isi pesannya seolah-olah Fadlan
sudah jenuh dengan hubungan mereka dan meminta pendapat Arsyi apa yang harus
mereka lakukan. Arsyi terdiam dan meneteskan air mata. Ia memperkirakan bahwa
Fadlan ingin menyudahi hubungan mereka. Arsyi sudah tidak tahan lagi dan
langsung menghubungi Fadlan, ketika itu suara Fadlan terdengar sangat santai, berbeda
dengan suara Arsyi yang terdengar serak
sambil menangis. Arsyi sudah berniat ingin memutuskan Fadlan saat itu. Tapi
ketika mendengar suara Fadlan ia merasa seperti rasa rindu yang ia rasakan
selama beberapa hari sudah hilang. Ia tidak jadi memutuskan hubungannya dengan
Fadlan. Ketika itupun mereka berbicara seperti tidak ada kejadian pertengkaran
sebelumnya. Arsyi merasa lega dan kembali tersenyum.
Keesokan
harinya, mereka berkomunikasi seperti biasanya. Fadlan memberitahu kepada Arsyi
bahwa lusa ia akan mengikuti kegiatan kampus selama 3 hari di sebuah desa yang
tidak ada listrik dan susah sinyal. Kemungkinan besar mereka akan tidk
berkomunikasi lagi selama 3 hari. Namun kali ini Arsy tidak terlalu khawatir.
Di benaknya ia hanya khawatir kalau ada wanita cantik yang menarik
perhatiannya.
Sudah
3 hari setelah tanpa komunikasi, akhirnya Fadlan menghubungi Arsyi mengabarkan
bahwa ia sudah pulang dan menceritakan kejadian yang ia alami selama berada di
desa itu. Fadlan juga mengatakan bahwa ia sangat merindukan Arsy.
Keesokan
harinya, merek bertengkar kembali karena masalah sepele. Kali ini Arsy tidak
memperdulikn Fadlan lagi karena ia juga sudah mulai jenuh.Lalu selama 3 hari
mereka tidak saling berkomunikasi hingga tiba di hari Kamis, Fadlan mengirimkan
pesan kepada Arsy. Isi pesannya sama seperti kemarin, Fadlan terlihat sperti
sudah jenuh dengn hubungan mereka. Fadlan pun meminta hubungan mereka break
untuk beberapa saat sampai keduanya sudah baik hatinya. Pada saat itu Arsy
menangis dan tidak setuju dengan keinginan Fadlan. Arsy terus memancing Fadlan
agar Fadlan mengatakan apa yang ingin ia katakana. Arsy tidak ingin memutuskan
Fadlan, ia masih tetap bertahan. Ia juga takut menyesal jika ia memutuskan
Fadlan. Ia terus memancing agar Fadlan mengatakan hal itu, namun belum ada
balasan lagi dari Fadlan.
Keesokan
harinya dengan matanya yang terlihat sembab akibat menangis, ia duduk bersama
teman-temannya, ia berusaha mencari kebahagiaan yang bisa menghiburnya pada
saat itu, dan ia pun tertawa bersama teman-temannya seketika upa akan kesedihan
dihatinya. Lalu tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Dan isi pesannya
adalah Fadlan memutuskan hubungan mereka. Spontan Arsyi langsung menangis dan
langsung memeluk teman yang ada disampingnya. Ia tidak berani membaca pesan
panjang yang dikirimkan oleh Fadlan. Teman-temannya lah yang membaca pesan itu.
Dan akhirnya Arsyi membaca pesan itu sambil terus mengeluarkan air mata. Ia
merasa seperti kehilangan, ia tidak bisa berhenti menangis hingga dosen masuk
dan keluar kelas. Teman-temannya menghibur, namun ia masih terus menangis seperti tidak
menyangka akan terjadi seperti ini. Arsyi merasa terpukul dan dengan berat hati
ia menerima keputusan Fadlan. Akhirnya mereka berpisah. Fadlan tetap
mengirimkan pesan kepada Arsyi seperti merasa sangat sedih dan berkata bahwa
ini adalah keputusan terberat Fadlan. Ia merasa seperti tidak ada tujuan lagi
dihubungan mereka karena keegoisan Arsy, sifat kekanak-kanakan Arsyi dan sifat
cemburu Arsyi yang berlebihan. Ia tetap merindukan dan masih menyayangi Arsyi,
Arsyi pun begitu. Fadlan slalu mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi di
masa depan.
Akhirnya
mereka menjalani hari-hari seperti 2 tahun yang lalu sebelum mereka bertemu.
Arsyi masih merasa sedih ketika mengingat dan merindukan Fadlan yang sekarang
sudah bukan siapa-siapanya lagi. Ia menjalani dan menikmati hari-harinya, namun
seperti ada yang hilang, yaitu Fadlan. Namun beberapa hari setelah mereka
putus, Arsyi mengetahui bahwa Fadlan sudah berteman dekat lebih dari teman
biasa dengan seorang wanita yang bernama Adinda. Ia mencari tahu hubungan
mereka berdua, mereka adalah teman sekelas di kampus dan ternyata mereka sudah
dekat ketika Arsyi dan Fadlan masih memiliki hubungan. Hati Arsyi semakin
hancur berkeping-keping. Ternyata itu juga salah satu alasan Fadlan memutuskan
Arsyi. Ia merasakan sakit hati yang mendalam hingga ia tidak ingin lagi
mengenal Fadlan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar