Sabtu, 28 Mei 2016

Cerpen 2 (karya sendiri)

Long Distance Relationship

Arsyi terbangun karena terkejut melihat sang ibu sedang salat di kamarnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 05.05 wib. Arsyi pun lalu terbangun dan bersiap melaksanakan salat subuh. Setelah salat subuh, ia mengecek ponsel miliknya kali saja ada pesan masuk dari Fadlan. Ternyata tidak ada pesan masuk. Sudah 3 hari mereka tidak saling berkomunikasi. Fadlan adalah kekasihnya. Mereka sudah menjalani sebuah hubungan selama 1 tahun sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Sudah 4 bulan ini mereka menjalani hubungan jarak jauh atau yang disebut Long Distance Relationship (LDR) antara Jakarta-Bandung untuk melanjutkan pendidikan mereka masing-masing. Sebulan terakhir ini mereka sudah tidak lagi menjalin hubungan yang harmonis seperti biasanya. Hubungan mereka seperti sudah diujung jalan yang tak tau menau kemana arah jalannya lagi setelah pertengkaran antara keduanya. Karena itulah akhir-akhir ini Arsyi menjadi murung dan galau seperti remaja yang lainnya.
“Arsyi, sarapan dulu nak” teriak ibunya kepada Arsyi.
“Iya ma, bentar” jawab Arsyi.
Karena kegelisahannya, ia slalu mengecek handphonenya seperti berharap ada pesan masuk dari Fadlan.
“Eh lo sarapan dulu deh jangan main hp mulu, ntar kuliah lo telat.” ucap kakaknya kepada Arsyi.
“Hm..” jawab Arsyi sambil tersenyum sinis.
“Eh gimana kabar Fadlan? Lancar gak ldrnya?”
“Gak tau deh, gue pusing.”
“Tuhkan, udah gue blng ldr itu emang gak enak.”
Arsyi tidak menjawab dan langsung berangkat kuliah. Sepanjang perjalanan Arsyi termenung sambil terus berfikir bagaimana caranya agar hubungan mereka bisa bertahan. Ia tetap slalu melihat ponselnya menunggu pesan masuk dari Fadlan. Ia sebagai wanita, gengsi untuk mengirimkan pesan terlebih dahulu. Namun jauh dilubuk hatinya, ia sangat merindukan Fadlan.
Setelah sampai di kampus, Arsyi langsung masuk ke dalam kelas dan memainkan game yang ada diponselnya.
“Syi!!” teriak Caca yang berada di depan pintu kelas.
Arsyi terkejut dan langsung tersenyum ke arah Caca.
“Gimana syi? Lo udah baikan sama Fadlan?” tanya Caca ketika duduk disamping Arsy.
“Ya gitu deh ca. Gue sendiri juga nungguin dia ngabarin gue. Tp setelah pertengkaran yang kemarin dia gak ada hubungin gue. Sebenernya gue gak mau berantem, apa lagi kalau udah beda kota gini, kan jadi susah. Biasanya kalau masih sekota kan bisa ketemu langsung terus baikan.” Jawab Arsyi.
“Kenapa gak lo aja yang hubungin dia duluan?”
“Kan posisinya gue yang lagi marah sama dia.”
“Yaudah lo tunggu aja deh dia hubungin lo.”
“Kalau sampai besok dia masih gak hubungin gue, gue yang bakal hubungin dia.”
“Jangan dipikirin banget deh syi. Lo juga jangan bawa masalah ini ke perkuliahan lo.”
“Iya ca. Gue bisa selesein.”
            Sepulang kuliah, tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Ia terkejut namun ia juga senang dan merasa lega. Isi pesannya adalah “Jangan lupa makan dan salat.” Arsyi hanya menjawab “Ya, kamu juga.” Lalu tidak ada balasan lagi dari Fadlan. Arsyi pun tetap menunggu balasan pesan dari Fadlan.
            Malam harinya Fadlan mengirimkan pesan kepada Arsyi. Isi pesannya seolah-olah Fadlan sudah jenuh dengan hubungan mereka dan meminta pendapat Arsyi apa yang harus mereka lakukan. Arsyi terdiam dan meneteskan air mata. Ia memperkirakan bahwa Fadlan ingin menyudahi hubungan mereka. Arsyi sudah tidak tahan lagi dan langsung menghubungi Fadlan, ketika itu suara Fadlan terdengar sangat santai, berbeda dengan suara Arsyi yang terdengar  serak sambil menangis. Arsyi sudah berniat ingin memutuskan Fadlan saat itu. Tapi ketika mendengar suara Fadlan ia merasa seperti rasa rindu yang ia rasakan selama beberapa hari sudah hilang. Ia tidak jadi memutuskan hubungannya dengan Fadlan. Ketika itupun mereka berbicara seperti tidak ada kejadian pertengkaran sebelumnya. Arsyi merasa lega dan kembali tersenyum.
            Keesokan harinya, mereka berkomunikasi seperti biasanya. Fadlan memberitahu kepada Arsyi bahwa lusa ia akan mengikuti kegiatan kampus selama 3 hari di sebuah desa yang tidak ada listrik dan susah sinyal. Kemungkinan besar mereka akan tidk berkomunikasi lagi selama 3 hari. Namun kali ini Arsy tidak terlalu khawatir. Di benaknya ia hanya khawatir kalau ada wanita cantik yang menarik perhatiannya.
            Sudah 3 hari setelah tanpa komunikasi, akhirnya Fadlan menghubungi Arsyi mengabarkan bahwa ia sudah pulang dan menceritakan kejadian yang ia alami selama berada di desa itu. Fadlan juga mengatakan bahwa ia sangat merindukan Arsy.
            Keesokan harinya, merek bertengkar kembali karena masalah sepele. Kali ini Arsy tidak memperdulikn Fadlan lagi karena ia juga sudah mulai jenuh.Lalu selama 3 hari mereka tidak saling berkomunikasi hingga tiba di hari Kamis, Fadlan mengirimkan pesan kepada Arsy. Isi pesannya sama seperti kemarin, Fadlan terlihat sperti sudah jenuh dengn hubungan mereka. Fadlan pun meminta hubungan mereka break untuk beberapa saat sampai keduanya sudah baik hatinya. Pada saat itu Arsy menangis dan tidak setuju dengan keinginan Fadlan. Arsy terus memancing Fadlan agar Fadlan mengatakan apa yang ingin ia katakana. Arsy tidak ingin memutuskan Fadlan, ia masih tetap bertahan. Ia juga takut menyesal jika ia memutuskan Fadlan. Ia terus memancing agar Fadlan mengatakan hal itu, namun belum ada balasan lagi dari Fadlan.
            Keesokan harinya dengan matanya yang terlihat sembab akibat menangis, ia duduk bersama teman-temannya, ia berusaha mencari kebahagiaan yang bisa menghiburnya pada saat itu, dan ia pun tertawa bersama teman-temannya seketika upa akan kesedihan dihatinya. Lalu tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Dan isi pesannya adalah Fadlan memutuskan hubungan mereka. Spontan Arsyi langsung menangis dan langsung memeluk teman yang ada disampingnya. Ia tidak berani membaca pesan panjang yang dikirimkan oleh Fadlan. Teman-temannya lah yang membaca pesan itu. Dan akhirnya Arsyi membaca pesan itu sambil terus mengeluarkan air mata. Ia merasa seperti kehilangan, ia tidak bisa berhenti menangis hingga dosen masuk dan keluar kelas. Teman-temannya menghibur, namun  ia masih terus menangis seperti tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Arsyi merasa terpukul dan dengan berat hati ia menerima keputusan Fadlan. Akhirnya mereka berpisah. Fadlan tetap mengirimkan pesan kepada Arsyi seperti merasa sangat sedih dan berkata bahwa ini adalah keputusan terberat Fadlan. Ia merasa seperti tidak ada tujuan lagi dihubungan mereka karena keegoisan Arsy, sifat kekanak-kanakan Arsyi dan sifat cemburu Arsyi yang berlebihan. Ia tetap merindukan dan masih menyayangi Arsyi, Arsyi pun begitu. Fadlan slalu mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi di masa depan.
            Akhirnya mereka menjalani hari-hari seperti 2 tahun yang lalu sebelum mereka bertemu. Arsyi masih merasa sedih ketika mengingat dan merindukan Fadlan yang sekarang sudah bukan siapa-siapanya lagi. Ia menjalani dan menikmati hari-harinya, namun seperti ada yang hilang, yaitu Fadlan. Namun beberapa hari setelah mereka putus, Arsyi mengetahui bahwa Fadlan sudah berteman dekat lebih dari teman biasa dengan seorang wanita yang bernama Adinda. Ia mencari tahu hubungan mereka berdua, mereka adalah teman sekelas di kampus dan ternyata mereka sudah dekat ketika Arsyi dan Fadlan masih memiliki hubungan. Hati Arsyi semakin hancur berkeping-keping. Ternyata itu juga salah satu alasan Fadlan memutuskan Arsyi. Ia merasakan sakit hati yang mendalam hingga ia tidak ingin lagi mengenal Fadlan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar