Edelweis
Cerpen Karangan: Hikmah Maqfirah
Lagi-lagi aku harus meninggalkan
pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan
cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam
09:25, aku tidak mengikuti pelajaran matematika, aku harus pulang mengantarnya,
setelah ku dapati kabar kakakku tercinta pingsan dan tak sadarkan diri saat jam
olah raga. Aku tak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada kakakku. Kejadian
seperti ini selalu terjadi, dia tak pernah mau ke dokter. Dia hanya mengatakan
bahwa dia baik-baik saja. Dia hanya lelah, itu yang selalu dikatakannya. Aku
tahu dia menyembunyikan sesuatu.
Kakakku satu tahun lebih tua
dariku. Sekarang dia kelas 3 SMA. Biarpun dia kakak, tapi tubuhnya lemah. Dia
butuh perhatian. Meski selalu terlukis indah di bibirnya sebuah senyum
kebahagiaan yang selalu meyakinkanku bahwa dia memang baik-baik saja. Namun,
aku selalu mendapatinya murung. Diam, kaku dengan pandangan kosong. Ku tahu
masih terbingkai kesedihan dalam benaknya, semenjak ayah dan ibu pergi untuk
selamanya dalam sebuah kecelakaan mobil. Sekarang, aku tinggal bersama om dan
tanteku yang telah menganggapku dan kakakku sebagai seorang anak sendiri.
Memang, mereka tidak mempunyai keturunan setelah pernikahannya. Aku sangat
bahagia dan berterima kasih kepada mereka karena mau merawatku dan kakakku.
Sore itu, ku dapati dirinya duduk
sendiri di taman belakang rumah. Di tangan kirinya sedang memegang sebuah foto,
dia menatapnya begitu dalam penuh makna. Tangan kanannya memegang sebuah pot
kecil yang terbuat dari kayu, diletakkannya di pangkuannya. Bunganya adalah
Edelweis, bunga kesayangannya. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya dan
mengobrol beberapa kalimat yang bisa membuatnya tersenyum. Aku melontarkan
pertanyaan mengapa dia begitu suka dengan bunga putih yang tak pernah layu yang
dipegangnya itu. “Bunga ini disebut juga bunga abadi dan kakak ingin sekali
seperti bunga ini.” Jawabnya singkat sambil menatap bunga itu. Meski aku tak
begitu paham, aku tak melontarkan pertanyaan lagi kepadanya. Aku sedang jalan
sendiri di lorong sekolah saat jam istirahat. Sahabatku Masya entah ke mana.
Tiba-tiba ku dengar teriakan di belakangku dari kejauhan.
“Claraaaaa.. tunggu..!!” aku berbalik dan berhenti. Itu dia,
Masya telah datang. Dia berhenti di depanku, napasnya tergesa-gesa.
“Hei, ada apa?” Tanyaku padanya.
“Itu.. Kak Dinda.”
“Iya, kakakku kenapa?”
“Kak Dinda, pingsan lagi. Sekarang berada di UKS.” Aku kaget
dan langsung pergi menuju UKS. Masya mengikutiku, kali ini aku tak akan
menuruti keinginan kakakku untuk dibawa pulang ke rumah, jika dia meminta. Kali
ini aku akan membawanya ke rumah sakit. Aku sangat cemas.
Hari demi hari, bulan demi bulan
berlalu. Pada saat dimana kakakku telah berbaring dengan tubuhnya yang lemah dan
wajah yang pucat. Aku tak pernah jauh darinya, ku manfaatkan waktu sepulang
sekolah untuk menjaganya. Masya sahabatku, om dan tanteku membantuku merawat
kakakku ini. Kanker darah (Leukimia) stadium 4. Itu yang dikatakan dokter
padaku. Ternyata kakakku benar-benar menyembunyikan sesuatu. Selama ini dia
sangat menderita. Dia melawan sakitnya sendiri tanpa sepengetahuanku. Penyakit
itu telah menggerogoti tubuhnya sejak dulu, hanya dia bertingkah seperti orang
sehat yang tak menderita penyakit apa-apa. Sekarang, dia dilemahkan oleh
penyakit itu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku pasrah pada
Allah SWT.
Di bulan April, seminggu sebelum
ulang tahunnya, ketakutanku akan kehilangan kakakku. Terjadi, aku tak bisa
membendung air mata ini. Masya mencoba menenangkanku hari itu, tapi aku tak
bisa. Air mataku tak hentinya mengalir. Mengapa aku harus mengalami kejadian
ini. Kehilangan seseorang yang sangat ku sayangi untuk kedua kalinya, setelah
ayah dan ibu. Setelah mereka meninggalkan tempat terakhir kak Dinda, aku
tinggal untuk beberapa menit dan duduk di sampingnya. Masya berdiri di
belakangku. Aku mengeluarkan sebuah bunga dari dalam tasku dengan pot yang
kecil terbuat dari kayu juga. Sebuah benda yang sengaja ku beli sebulan yang
lalu sebagai kado ulang tahun kak Dinda nanti. Ku letakkan di depan nisan itu.
“Ini akan menemanimu, Kak.” Bisikku. Ku menarik napas
panjang dan menghembuskannya. Kemudian ku beranjak pergi, tak lupa ku kirimkan
doa untuknya, untuk ibu dan untuk ayah. “Aku yakin, Ayah, Ibu dan Kak Dinda
tidak benar-benar pergi meninggalkanku. Mereka masih berada di sisiku..”
Batinku.
Analisis :
Tema : Kesedihan
Penokohan :
-
Clara : Penyayang, baik hati
-
Masya : baik hati
-
Kak Dinda : penyayang
Latar tempat : di sekolah, di taman belakang rumah dan di
rumah sakit
Latar waktu : Pagi hari, sore hari
Latar suasana : mencemaskan, mengharukan
Alur : maju
Sudut pandang : pengarang sebagai
Gaya bahasa : mudah dipahami
Amanat :
- Sayangilah orang yang kita sayangi sebelum mereka pergi meninggalkan kita dan takkan pernah kembali lagi.
- Jadilah orang yang terbuka, jangan menanggung beban masalah sendirian.