Sabtu, 28 Mei 2016

Analisi Cerpen

Edelweis

Cerpen Karangan: Hikmah Maqfirah

Lagi-lagi aku harus meninggalkan pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam 09:25, aku tidak mengikuti pelajaran matematika, aku harus pulang mengantarnya, setelah ku dapati kabar kakakku tercinta pingsan dan tak sadarkan diri saat jam olah raga. Aku tak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada kakakku. Kejadian seperti ini selalu terjadi, dia tak pernah mau ke dokter. Dia hanya mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Dia hanya lelah, itu yang selalu dikatakannya. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.

Kakakku satu tahun lebih tua dariku. Sekarang dia kelas 3 SMA. Biarpun dia kakak, tapi tubuhnya lemah. Dia butuh perhatian. Meski selalu terlukis indah di bibirnya sebuah senyum kebahagiaan yang selalu meyakinkanku bahwa dia memang baik-baik saja. Namun, aku selalu mendapatinya murung. Diam, kaku dengan pandangan kosong. Ku tahu masih terbingkai kesedihan dalam benaknya, semenjak ayah dan ibu pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan mobil. Sekarang, aku tinggal bersama om dan tanteku yang telah menganggapku dan kakakku sebagai seorang anak sendiri. Memang, mereka tidak mempunyai keturunan setelah pernikahannya. Aku sangat bahagia dan berterima kasih kepada mereka karena mau merawatku dan kakakku.

Sore itu, ku dapati dirinya duduk sendiri di taman belakang rumah. Di tangan kirinya sedang memegang sebuah foto, dia menatapnya begitu dalam penuh makna. Tangan kanannya memegang sebuah pot kecil yang terbuat dari kayu, diletakkannya di pangkuannya. Bunganya adalah Edelweis, bunga kesayangannya. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya dan mengobrol beberapa kalimat yang bisa membuatnya tersenyum. Aku melontarkan pertanyaan mengapa dia begitu suka dengan bunga putih yang tak pernah layu yang dipegangnya itu. “Bunga ini disebut juga bunga abadi dan kakak ingin sekali seperti bunga ini.” Jawabnya singkat sambil menatap bunga itu. Meski aku tak begitu paham, aku tak melontarkan pertanyaan lagi kepadanya. Aku sedang jalan sendiri di lorong sekolah saat jam istirahat. Sahabatku Masya entah ke mana. Tiba-tiba ku dengar teriakan di belakangku dari kejauhan.

“Claraaaaa.. tunggu..!!” aku berbalik dan berhenti. Itu dia, Masya telah datang. Dia berhenti di depanku, napasnya tergesa-gesa.
“Hei, ada apa?” Tanyaku padanya.
“Itu.. Kak Dinda.”
“Iya, kakakku kenapa?”
“Kak Dinda, pingsan lagi. Sekarang berada di UKS.” Aku kaget dan langsung pergi menuju UKS. Masya mengikutiku, kali ini aku tak akan menuruti keinginan kakakku untuk dibawa pulang ke rumah, jika dia meminta. Kali ini aku akan membawanya ke rumah sakit. Aku sangat cemas.

Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Pada saat dimana kakakku telah berbaring dengan tubuhnya yang lemah dan wajah yang pucat. Aku tak pernah jauh darinya, ku manfaatkan waktu sepulang sekolah untuk menjaganya. Masya sahabatku, om dan tanteku membantuku merawat kakakku ini. Kanker darah (Leukimia) stadium 4. Itu yang dikatakan dokter padaku. Ternyata kakakku benar-benar menyembunyikan sesuatu. Selama ini dia sangat menderita. Dia melawan sakitnya sendiri tanpa sepengetahuanku. Penyakit itu telah menggerogoti tubuhnya sejak dulu, hanya dia bertingkah seperti orang sehat yang tak menderita penyakit apa-apa. Sekarang, dia dilemahkan oleh penyakit itu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku pasrah pada Allah SWT.

Di bulan April, seminggu sebelum ulang tahunnya, ketakutanku akan kehilangan kakakku. Terjadi, aku tak bisa membendung air mata ini. Masya mencoba menenangkanku hari itu, tapi aku tak bisa. Air mataku tak hentinya mengalir. Mengapa aku harus mengalami kejadian ini. Kehilangan seseorang yang sangat ku sayangi untuk kedua kalinya, setelah ayah dan ibu. Setelah mereka meninggalkan tempat terakhir kak Dinda, aku tinggal untuk beberapa menit dan duduk di sampingnya. Masya berdiri di belakangku. Aku mengeluarkan sebuah bunga dari dalam tasku dengan pot yang kecil terbuat dari kayu juga. Sebuah benda yang sengaja ku beli sebulan yang lalu sebagai kado ulang tahun kak Dinda nanti. Ku letakkan di depan nisan itu.

“Ini akan menemanimu, Kak.” Bisikku. Ku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Kemudian ku beranjak pergi, tak lupa ku kirimkan doa untuknya, untuk ibu dan untuk ayah. “Aku yakin, Ayah, Ibu dan Kak Dinda tidak benar-benar pergi meninggalkanku. Mereka masih berada di sisiku..” Batinku.

Analisis :

Tema : Kesedihan
Penokohan :
-          Clara : Penyayang, baik hati
-          Masya : baik hati
-          Kak Dinda : penyayang
Latar tempat  : di sekolah, di taman belakang rumah dan di rumah sakit
Latar waktu   : Pagi hari, sore hari
Latar suasana : mencemaskan, mengharukan
Alur               : maju
Sudut pandang : pengarang sebagai
Gaya bahasa : mudah dipahami
Amanat : 
- Sayangilah orang yang kita sayangi sebelum mereka pergi meninggalkan kita dan takkan pernah kembali lagi.
- Jadilah orang yang terbuka, jangan menanggung beban masalah sendirian.



Cerpen 2 (karya sendiri)

Long Distance Relationship

Arsyi terbangun karena terkejut melihat sang ibu sedang salat di kamarnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 05.05 wib. Arsyi pun lalu terbangun dan bersiap melaksanakan salat subuh. Setelah salat subuh, ia mengecek ponsel miliknya kali saja ada pesan masuk dari Fadlan. Ternyata tidak ada pesan masuk. Sudah 3 hari mereka tidak saling berkomunikasi. Fadlan adalah kekasihnya. Mereka sudah menjalani sebuah hubungan selama 1 tahun sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Sudah 4 bulan ini mereka menjalani hubungan jarak jauh atau yang disebut Long Distance Relationship (LDR) antara Jakarta-Bandung untuk melanjutkan pendidikan mereka masing-masing. Sebulan terakhir ini mereka sudah tidak lagi menjalin hubungan yang harmonis seperti biasanya. Hubungan mereka seperti sudah diujung jalan yang tak tau menau kemana arah jalannya lagi setelah pertengkaran antara keduanya. Karena itulah akhir-akhir ini Arsyi menjadi murung dan galau seperti remaja yang lainnya.
“Arsyi, sarapan dulu nak” teriak ibunya kepada Arsyi.
“Iya ma, bentar” jawab Arsyi.
Karena kegelisahannya, ia slalu mengecek handphonenya seperti berharap ada pesan masuk dari Fadlan.
“Eh lo sarapan dulu deh jangan main hp mulu, ntar kuliah lo telat.” ucap kakaknya kepada Arsyi.
“Hm..” jawab Arsyi sambil tersenyum sinis.
“Eh gimana kabar Fadlan? Lancar gak ldrnya?”
“Gak tau deh, gue pusing.”
“Tuhkan, udah gue blng ldr itu emang gak enak.”
Arsyi tidak menjawab dan langsung berangkat kuliah. Sepanjang perjalanan Arsyi termenung sambil terus berfikir bagaimana caranya agar hubungan mereka bisa bertahan. Ia tetap slalu melihat ponselnya menunggu pesan masuk dari Fadlan. Ia sebagai wanita, gengsi untuk mengirimkan pesan terlebih dahulu. Namun jauh dilubuk hatinya, ia sangat merindukan Fadlan.
Setelah sampai di kampus, Arsyi langsung masuk ke dalam kelas dan memainkan game yang ada diponselnya.
“Syi!!” teriak Caca yang berada di depan pintu kelas.
Arsyi terkejut dan langsung tersenyum ke arah Caca.
“Gimana syi? Lo udah baikan sama Fadlan?” tanya Caca ketika duduk disamping Arsy.
“Ya gitu deh ca. Gue sendiri juga nungguin dia ngabarin gue. Tp setelah pertengkaran yang kemarin dia gak ada hubungin gue. Sebenernya gue gak mau berantem, apa lagi kalau udah beda kota gini, kan jadi susah. Biasanya kalau masih sekota kan bisa ketemu langsung terus baikan.” Jawab Arsyi.
“Kenapa gak lo aja yang hubungin dia duluan?”
“Kan posisinya gue yang lagi marah sama dia.”
“Yaudah lo tunggu aja deh dia hubungin lo.”
“Kalau sampai besok dia masih gak hubungin gue, gue yang bakal hubungin dia.”
“Jangan dipikirin banget deh syi. Lo juga jangan bawa masalah ini ke perkuliahan lo.”
“Iya ca. Gue bisa selesein.”
            Sepulang kuliah, tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Ia terkejut namun ia juga senang dan merasa lega. Isi pesannya adalah “Jangan lupa makan dan salat.” Arsyi hanya menjawab “Ya, kamu juga.” Lalu tidak ada balasan lagi dari Fadlan. Arsyi pun tetap menunggu balasan pesan dari Fadlan.
            Malam harinya Fadlan mengirimkan pesan kepada Arsyi. Isi pesannya seolah-olah Fadlan sudah jenuh dengan hubungan mereka dan meminta pendapat Arsyi apa yang harus mereka lakukan. Arsyi terdiam dan meneteskan air mata. Ia memperkirakan bahwa Fadlan ingin menyudahi hubungan mereka. Arsyi sudah tidak tahan lagi dan langsung menghubungi Fadlan, ketika itu suara Fadlan terdengar sangat santai, berbeda dengan suara Arsyi yang terdengar  serak sambil menangis. Arsyi sudah berniat ingin memutuskan Fadlan saat itu. Tapi ketika mendengar suara Fadlan ia merasa seperti rasa rindu yang ia rasakan selama beberapa hari sudah hilang. Ia tidak jadi memutuskan hubungannya dengan Fadlan. Ketika itupun mereka berbicara seperti tidak ada kejadian pertengkaran sebelumnya. Arsyi merasa lega dan kembali tersenyum.
            Keesokan harinya, mereka berkomunikasi seperti biasanya. Fadlan memberitahu kepada Arsyi bahwa lusa ia akan mengikuti kegiatan kampus selama 3 hari di sebuah desa yang tidak ada listrik dan susah sinyal. Kemungkinan besar mereka akan tidk berkomunikasi lagi selama 3 hari. Namun kali ini Arsy tidak terlalu khawatir. Di benaknya ia hanya khawatir kalau ada wanita cantik yang menarik perhatiannya.
            Sudah 3 hari setelah tanpa komunikasi, akhirnya Fadlan menghubungi Arsyi mengabarkan bahwa ia sudah pulang dan menceritakan kejadian yang ia alami selama berada di desa itu. Fadlan juga mengatakan bahwa ia sangat merindukan Arsy.
            Keesokan harinya, merek bertengkar kembali karena masalah sepele. Kali ini Arsy tidak memperdulikn Fadlan lagi karena ia juga sudah mulai jenuh.Lalu selama 3 hari mereka tidak saling berkomunikasi hingga tiba di hari Kamis, Fadlan mengirimkan pesan kepada Arsy. Isi pesannya sama seperti kemarin, Fadlan terlihat sperti sudah jenuh dengn hubungan mereka. Fadlan pun meminta hubungan mereka break untuk beberapa saat sampai keduanya sudah baik hatinya. Pada saat itu Arsy menangis dan tidak setuju dengan keinginan Fadlan. Arsy terus memancing Fadlan agar Fadlan mengatakan apa yang ingin ia katakana. Arsy tidak ingin memutuskan Fadlan, ia masih tetap bertahan. Ia juga takut menyesal jika ia memutuskan Fadlan. Ia terus memancing agar Fadlan mengatakan hal itu, namun belum ada balasan lagi dari Fadlan.
            Keesokan harinya dengan matanya yang terlihat sembab akibat menangis, ia duduk bersama teman-temannya, ia berusaha mencari kebahagiaan yang bisa menghiburnya pada saat itu, dan ia pun tertawa bersama teman-temannya seketika upa akan kesedihan dihatinya. Lalu tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Dan isi pesannya adalah Fadlan memutuskan hubungan mereka. Spontan Arsyi langsung menangis dan langsung memeluk teman yang ada disampingnya. Ia tidak berani membaca pesan panjang yang dikirimkan oleh Fadlan. Teman-temannya lah yang membaca pesan itu. Dan akhirnya Arsyi membaca pesan itu sambil terus mengeluarkan air mata. Ia merasa seperti kehilangan, ia tidak bisa berhenti menangis hingga dosen masuk dan keluar kelas. Teman-temannya menghibur, namun  ia masih terus menangis seperti tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Arsyi merasa terpukul dan dengan berat hati ia menerima keputusan Fadlan. Akhirnya mereka berpisah. Fadlan tetap mengirimkan pesan kepada Arsyi seperti merasa sangat sedih dan berkata bahwa ini adalah keputusan terberat Fadlan. Ia merasa seperti tidak ada tujuan lagi dihubungan mereka karena keegoisan Arsy, sifat kekanak-kanakan Arsyi dan sifat cemburu Arsyi yang berlebihan. Ia tetap merindukan dan masih menyayangi Arsyi, Arsyi pun begitu. Fadlan slalu mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi di masa depan.
            Akhirnya mereka menjalani hari-hari seperti 2 tahun yang lalu sebelum mereka bertemu. Arsyi masih merasa sedih ketika mengingat dan merindukan Fadlan yang sekarang sudah bukan siapa-siapanya lagi. Ia menjalani dan menikmati hari-harinya, namun seperti ada yang hilang, yaitu Fadlan. Namun beberapa hari setelah mereka putus, Arsyi mengetahui bahwa Fadlan sudah berteman dekat lebih dari teman biasa dengan seorang wanita yang bernama Adinda. Ia mencari tahu hubungan mereka berdua, mereka adalah teman sekelas di kampus dan ternyata mereka sudah dekat ketika Arsyi dan Fadlan masih memiliki hubungan. Hati Arsyi semakin hancur berkeping-keping. Ternyata itu juga salah satu alasan Fadlan memutuskan Arsyi. Ia merasakan sakit hati yang mendalam hingga ia tidak ingin lagi mengenal Fadlan.




Artikel Profil (berdasarkan wawancara langsung)

Julia Susanty adalah seorang wanita yang lahir di Kijang, 17 Juli 1997. Ia  tinggal di Jalan Nusantara km 17, Kijang. Ia pernah bersekolah di Tk Mutiara, SDN 002 Tanjungpinang Timur, SMPN 7 Tanjungpinang dan SMAN 2 Tanjungpinang. Sekarang ia sedang melanjutkan pendidikannya di Universitas Medan Area (UMA), pada Fakultas Ekonomi (Fekon) jurusan akutansi. Ia memilih melanjutkan pendidikannya di Universitas Medan Area karena itu salah satu perguruan tinggi swasta di Medan yang sudah terakreditasi A dan merupakan salah satu universitas yang tidak diblacklist dari perusahaan. Ia tidak melanjutkan pendidikan di kotanya, yaitu kota Tanjungpinang  karena ia sudah niat kuliah di Medan sejak ia masih SMA. Jurusan yang ia pilih sesuai dengan cita-citanya karena pada waktu SMA ia sudah mulai mengenal akuntansi hingga ia tertarik unuk mempelajari akuntansi lebih dalam. Ia bisa mengikuti semua mata kuliah yang ada di jurusan perkuliahannya, hanya saja ia sedikit kesulitan jika suasana belajar tidak berjalan baik dan jikaa materinya sulit untuk dipahami.
Ia sudah bisa membiasakan diri di kota orang. Hanya butuh waktu sekitar 1 bulan untuk bisa membiasakan diri di kota Medan. Mulai dari cara berbicara hingga dapat mengartikan bahasa daerah yang ada di kota Medan. Dengan cara beradaptasi dengan teman asal kota tersebut akan membuat ia lebih mudah beradaptasi di kota Medan. Dalam setahun hanya 2 kali ia pulang ke kota asalnya, yaitu sewaktu hari raya besar dan libur semester. Tetapi jika ada libur panjang selain hari raya dan libur semester, ia pulang ke kota asalnya. Ia sudah terbiasa berangkat sendirian tanpa didampingi teman atau orang lain.
Target masa perkuliahannya adalah 4 tahun. Setelah lulus S1, ia akan melanjutkan ke S2 tetapi sebelum melanjutkan pendidikan S2, ia akan bekerja karena ia masih ingin mencari pengalaman kerja. Namun, ia ingin mencari pekerjaan di kota lain selain di kota Medan karena ia tertarik mencari pengalaman. Ia tidak ingin bekerja di kota asalnya karena menurutnya bahwa kemungkinan besar prospek pekerjaan untuk seorang akuntan di kotanya sangat kecil. Ia ingin bekerja di sebuah perusahaan besar atau di bank sesuai prospek kerja seorang akuntan. Jika ia tidak memiliki kesempatan bisa bekerja di sebuah perusahaan besar ataupun di bank, ia akan membuat usaha jasa auditing. Lalu, setelah itu ia ingin melanjutkan pendidikannya di luar negeri, yaitu di Singapura engan jurusan yang sama. Jika pada saat itu ia sudah mendapatkan pekerjaan di dalam negeri, maka pekerjaannya ia tinggalkan karena ia hanya ingin mendapatkan pengalaman etika berbisnis di negerinya sendiri, lalu di aplikasikan saat bekerja di luar negeri nanti. Jika ketika ia sudah lulus S2, ia akan bekerja di Singapura dan membuka sebuah usaha. Jika usahanya tidak laku, ia akan minta bantuan dengan kerabatnya. Ia tidak kembali ke negerinya sendiri jika ia sudah mendapatkan pengalaman di Singapura. Tetapi ia tidak menetap, hanya sebagai warga Negara asing. Selain menambah visa Negara, bergaji uang dollar, kehidupannya akan terjamin.


Kamis, 19 Mei 2016

Analisis Dongeng

         "Asal Usul Dua Belas Shio Binatang"

        Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Dewa. Pada tanggal 31 Desember pagi sebelum tahun baru, Sang Dewa menulis surat kepada binatang-binatang diseluruh negeri. Angin lalu menyebarkan surat-surat itu keseluruh negeri.
Dalam sekejap, para binatang menerima surat-surat itu, yang isinya bahwa besok pagi di tahun baru, Dewa akan memilih binatang yang paling dahulu datang kesini, dari nomor stu smapai dengan nomor dua belas. Lalu, setiap tahun depa akan mengangkat satu persatu dari mereka sebagai Jenderal berdasarkan urutan.
 Para binatang sangat bersemangat dan tertarik dengan hal itu. Mereka sangat ingin menjadi Jenderal. Tetapi ada satu binatang yang tidak membaca surat itu, yaitu Kucing yang suka bersantai dan tidur. ia hanya menengar berita ini dari Tikus. Tikus yang licik menipunya dan memberitahu bahwa mereka harus berkumpul di tempat Dewa lusa tanggal 2 Januari, padahal seharusnya mereka berkumpul besok pagi tanggal 1 Januari.
Semua binatang bersemangat dan memikirkan tentang kemenangan dan mereka semua tidur cepat. hanya Sapi yang langsung berangkat malam itu juga karena ia sadar kalau ia berjalan sangat lambat. Tikus yang licik meihatnya lalu meloncat dan menumpang ke punggung Sapi, tetapi Sapi tidak menyadari hal itu.
Pagi harinya, saat hari masih gelap, Anjing, Monyet, Babi hutan, Harimau, Naga, Ular, Kelinci, Ayam, Domba dan Kuda, semuanya berangkat berlari menuju ketempat Sang Dewa.
Saat matahari mulai terbit yang pertama kali sampai di tempat tinggal Dewa adalah Sapi. tapi kemudian Tikus melompat ke depan dan mendarat tepat dihadapan Dewa, maka tikus pun menjadi yang pertama.
Dibelakang mereka, tibalah Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi hutan datang berurutan. Dengan demikian mereka ditetapkan sebagai pemenang satu sampai dua belas sesuai dengan urutan kedangannya. Dua belas ekor binatang ini kemudian disebut dengan 12 Shio Binatang.
Para binatang itu merayakan kemenangan dan berpesta pora sambil mengelilingi Sang Dewa. Lalu, tiba-tiba si Kucing datang dengan wajah yang sangat marah. Ia mencari tikus yang telah menipunya sehingga ia datang terlambat. Kucing pun mengejar Tikus kesana kemari.
Sejak itu mulailah era dua belas shio binatang dimulai dari yang pertama tahun Tikus, lalu Sapi, kemudian Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan. Kucing yang tidak berhasil masuk ke dalam Dua Belas Shio Binatang sampai sekarang masih menggejar Tikus kesana kemari karena telah menipunya.


Analisis :
1. Tema                       : Kerja Keras
2. Penokohan  : 
    - Dewa                     : Protagonis
    - Tikus                      : Licik, mau menang sendiri dan suka berbohong
    - Sapi                       : Tidak mau menyerah
   - Kucing                    : Pemalas, pemarah dan ceroboh
   - Kelinci, Kuda, Domba, Ayam, Anjing, Babi Hutan, Harimau, Ular dan Naga :   
    Bekerja keras
3. Latar tempat            : Negeri dan tempat tinggal Dewa
    Latar waktu             : Malam hari, Pagi hari
    Latar suasana          : gembira, sedih, menegangkan.
4. Alur             : Maju.
5. Sudut Pandang        : Orang ketiga.
6. Amanat                   :
   - Sesuatu yang dilakukan dengan usaha, maka akan membuahkan hasil yang baik.
   - Jangan curang demi keuntungn diri sendiri
   - Bekerja keraslah dengan sesuatu yang kita inginkan.

Selasa, 17 Mei 2016

Pengalaman Nyata Bersama Dosen "Asyiknya Belajar Bersama Pak Satria"



Hampir setahun yang lalu, waktu kami masih di semester 1, kami mengambil mata kuliah Bahasa Inggris. Dosennya adalah pak Satria Agust. Pada saat dipertemuan pertama mata kuliah bahasa inggris, pak Satria tidak hadir, padahal kami semua sudah menunggu. Karena awal pertemuan, ketua kelas kami belum memiliki nomor ponsel pak Satria. Maka dari itu kami belum bisa mengkonfirmasi hadir tidaknya pak Satria. Dipertemuan kedua juga sama seperti itu, pak satria tidak hadir. Kami merasa sedikit kesal karena perjalanan ke kampus lumayan jauh tetapi setelah tiba di kampus ternyata dosen yang kami tunngu tidak hadir lagi. Akhirnya dipertemuan ketiga pak Satria hadir. Kami merasa lega. Jika dipertemuan ketiga ini pak Satria tidak hadir, ntah bagaimana cara kami membagi waktu untuk mengganti pertemuan sebelumnya.
Dipertemuan ketiga ini menjadi pertemuan pertama kami.
“Good morning” ucapnya ketika langkah pertamanya masuk ke pintu kelas.
“Good morning too, sir” balas kami serentak
“how are u today?”
“I’m fine, thank you.”
Setelah itu pak Satria seperti menunggu dan memberi kode ke kami. Ia menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum. Kami semua bingung. Ternyata ia berharap kami menanyakan kabarnya juga. Dan kami pun mengulangnya.
“I’m fine, thank you. And you?”
“life always treat me well, thanks” jawabnya.
Begitulah seterusnya ketika pak Satria menyapa kami sewaktu ia mengajar kami di dalam kelas.
Pak Satria memiliki suara yang lantang. Ketika ia mengajar, ia sangat lucu dan tidak membosankan. Namun kadang mengejutkan. Ia suka dengan siswa yang aktif, suka bertanya dan menjawab ketika ditanya walaupun jawabannya tidak benar.
Dari SMP hingga sekarang, aku suka pelajaran bahasa Inggris karena aku suka dengan hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Awalnya aku mengira jika pak Satria ini adalah dosen yang galak dan aku akan sulit mengikuti pelajarannya. Namun, ternyata pak Satria adalah dosen yang baik, ramah, menantang dan tidak membosankan. Ia mengajar dengan baik sehingga aku sangat mudah memahami pelajaran yang ia berikan. Setiap ada pertanyaan, aku selalu menjawab dan aku juga selalu bertanya, sehingga lama kelamaan pak Satria mengenal namaku. Setiap ada tugas atau ketika ia memberi latihan di kelas, ia slalu bertanya kepadaku dan untungnya aku bisa menjawab dengan jawaban yang benar. Sewaktu sedang membahas tugas di kelas, perhatiannya selalu tertuju kepadaku seolah-olah memberi kode agar aku yang menjawab ketika teman-teman di kelas tidak bisa menjawab atau menulis kata-kata yang  menggunakan bahasa Inggris dengan benar. Ketika mengajar pun ia suka memberi kata-kata motivasi untuk kami semua. Karena itu, aku selalu tak sabar menunggu hari Kamis karena ada pelajaran bahasa Inggris. Hasil Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) bahasa Inggris, aku mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.
Walaupun aku dari jurusan Bahasa Indonesia,  tetapi aku senang bisa belajar mata kuliah bahasa Inggris. Apa yang ia ajarkan selalu memberi pengetahuan yang baru untukku. Aku merasa semakin memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang bahasa Inggris dari sebelum aku belajar dengan pak Satria. Aku mulai lebih menyukai dan tertarik dengan bahasa Inggris karena pak Satria. Aku juga termotivasi untuk bisa menguasai bahasa internasional ini. Namun sayangnya di semester selanjutnya, pak Satria tidak lagi mengajar kami. Kami tidak ada lagi mata kuliah yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Rasanya seperti hampa jika tidak belajar bahasa Inggris, bahkan aku ingin sekali pindah ke jurusan bahasa Inggris.
            Walaupun sudah tidak bertemu dengan pak Satria lagi, aku tetap mempelajari dan mengingat semua pengetahuan yang berkaitan dengan bahasa inggris yang sudah ia berikan kepada kami semua.
Thank you so much………….

Puisi (karya sendiri)

"Khayalan"


Kita berjalan,
kita tertawa,
kita habiskan waktu dengan berjalan di pantai
menikmati ombak yang kian melaju
angin yang berhembus kencang
dengan pijakan pasir putih yang halus

Tangan kita bergandengan mesra
Tawa canda yang tiada henti
Rasanya tak ingin ini berakhir
Tak bisa kubuka mulutku tuk ucapkan kata-kata yang ingin kukatakan padamu
Perasaan yang tak bisa kugambarkan
Seluruh waktu yang kita habiskan bersama
Begitu indah……

Di dalam mimpiku, kau bersamaku
Kita akan menjadi apapun yang kumau
Mungkinkah ini akan me jadi hari terindah?
Hari terindah antara kau dan aku
Atau ini hanya aku dan khayalanku saja………..

Cerpen 1 (karya sendiri)

"Tok Munir"


Pagi ini aku ada jadwal perkuliahan. Rasanya sangat malas sekali karena cuaca yang sangat panas, ditambah lagi dengan kampusku yang sangat jauh dan membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai disana. Sebelum pergi, seperti biasa aku ke kamar atok. Orang-orang sering memanggilnya tok Munir. Setelah perceraian orang tuaku 10 tahun yang lalu, aku dirawat dan diasuh oleh atok. Ayahku sudah menikah lagi, sedangkan ibuku tinggal bersama adikku di rumahnya. Atok hanya tinggal bersam ku dan anak bungsunya yang belum menikah setelah kepergian istrinya beberapa tahun silam. Karena kami suku Minang, aku memanggil anak bungsu atok dengan sebutan etek/tek yang berarti tante.
Aku masuk ke kamarnya untuk melihat keadaannya karena beberapa hari ini ia sakit.
“Tok, bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku
“Alhamdulillah sudah mendingan”  jawabnya
“Syukurlah. Kalau begitu Natalia berangkat kuliah dulu ya tok” (sambil mencium tangan atok)
“Iya, hati-hati”
            Beberapa hari ini atok hanya terbaring lemah di kamarnya. Hal ini yang membuatku gelisah saat aku tidak berada di rumah karena atok hanya sendirian di rumah. Anak bungsunya yang bernama Lita pun harus bekerja setiap hari dari pagi hingga sore hari.
            Aku baru saja pulang dari kampus. Sore ini keadaan atok terlihat lebih membaik dari sebelumnya. Ia memintaku untuk membeli indomie di warung. Aku bingung, karena selama aku tinggal bersamanya aku dan tek lita tidak dibolehkan memakan indomie instan oleh atok. Mungkin dalam waktu sebulan kami hanya 2 kali memakan indomie instan. Itu pun tanpa sepengetahuan atok.
            Hari sudah malam, tiba-tiba atok memanggil dan mengajak kami berdua untuk memakan indomie buatannya. Tentu saja kami merasa kaget dan heran. Dan akhirnya kami bertiga makan bersama di ruang makan.
            Sehabis makan, setelah mencuci piring, atok memintaku memijat bagian kakinya. Aku sudah mengantuk dan rasanya ingin tidur. Sudah 1 jam lebih aku mimijat kakinya, namun belum ada tanda-tanda untuk disuruh berhenti. Padahal aku sangat lelah. Biasanya ia memintaku memijatnya hanya sekitar 15 menit. Tapi ternyata tidak untuk hari ini.
            Lagi-lagi aku harus kuliah pagi. Seperti biasa, sebelum berangkat ke kampus, aku ke kamar atok untuk melihat keadaannya dan berpamitan. Hari ini aku tidak terlalu gelisah karena ada tek Lita yang menjaganya di rumah.
            Sungguh ini hari yang sangat melelahkan. Baru saja sampai rumah, atok memintaku untuk memijat punggungnya di ruang tengah. Tentu saja aku turuti walaupun aku merasa sangat lelah. Ia memintaku menempelkan daun jarak di punggungnya untuk menurunkan panas tubuhnya. Hari ini tubuhnya benar-benar terasa panas. Setelah selesai, aku ke dapur untuk mencuci piring dan memasak nasi.
“Natalia, coba lihat ke ruang tengah” bisik tek Lita tiba-tiba
“Memangnya ada apa?” tanyaku
            Langsung saja aku menuju ruang tengah. Ternyata ada aroma yang tidak sedap karena lantai di ruang tengah hingga ke kamar atok ada kotoran atok. Sungguh ini mengejutkan dan menyebalkan karena kami harus membersihkan lantai itu. Kami tidak tahu apa yang telah terjadi. Kami pun langsung membersihkan kotoran tersebut yang berceceran di antai ruang tengah.
            Setelah itu, aku dan tek Lita ingin melihat keadaan atok di kamarnya. Tetapi, tidak sengaja kami melihatnya sedang duduk di atas kasur tanpa pakaian. Kami tidak jadi menghampirinya karena tidak ingin mengganggunya.
            Lalu, aku melanjutkan tugasku untuk mencuci piring dan memasak nasi. Tek Lita sedang memasak bubur untuk ayahnya. Beberapa saat kemudian bubur itu sudah matang dan ia pun langsung menuju ke kamar ayahnya untuk menyuapinya.
            Setelah menyelesaikan tugasku, aku duduk di dapur untuk beristirahat sebentar. Tiba-tiba…………..
“Natalia….Natalia!!!!!!” teriakan tek Lita memanggilku.
Aku kaget dan langsung berlari menuju kamar atok. Aku masuk ke kamarnya dan melihat atok terbaring yang sudah tidak sadarkan diri.
“Ayah…jangan pergi dulu” kata tek Lita sambil terisak tangis.
“Atok, atok kenapa? Bangun tok, istigfar” kataku sambil mmegang tangannya.
            Kami berdua panik. Langsung saja aku memberi kabar kepada ibuku.dan berlari keluar rumah untuk meminta bantuan tetangga. Kami membawa atok ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku merasa tidak tenang, begitu juga dengan tek Lita yang terus menangis meneteskan air mata. Setelah tiba di rumah sakit, atok dibawa ke ruang UGD. Kami hanya bisa berdoa meminta tolong kepada Allah Swt.
Dan ternyata atok sudah dipanggil oleh Allah Swt. Spontan kami langsung menangis. Rasanya sudah tidak terbendung lagi. Selama aku dirawatnya 10 tahun, aku belum pernah mengucapkan terimakasih kepadanya atas semua kebaikan yang ia berikan untukku. Rasanya ingin sekali aku membangunkannya dan berharap ia kembali hidup, tapi itu semua mustahil dan tidak akan mungkin terjadi.