Rabu, 22 Juni 2016
Sabtu, 04 Juni 2016
Sabtu, 28 Mei 2016
Analisi Cerpen
Edelweis
Cerpen Karangan: Hikmah Maqfirah
Lagi-lagi aku harus meninggalkan
pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan
cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam
09:25, aku tidak mengikuti pelajaran matematika, aku harus pulang mengantarnya,
setelah ku dapati kabar kakakku tercinta pingsan dan tak sadarkan diri saat jam
olah raga. Aku tak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada kakakku. Kejadian
seperti ini selalu terjadi, dia tak pernah mau ke dokter. Dia hanya mengatakan
bahwa dia baik-baik saja. Dia hanya lelah, itu yang selalu dikatakannya. Aku
tahu dia menyembunyikan sesuatu.
Kakakku satu tahun lebih tua
dariku. Sekarang dia kelas 3 SMA. Biarpun dia kakak, tapi tubuhnya lemah. Dia
butuh perhatian. Meski selalu terlukis indah di bibirnya sebuah senyum
kebahagiaan yang selalu meyakinkanku bahwa dia memang baik-baik saja. Namun,
aku selalu mendapatinya murung. Diam, kaku dengan pandangan kosong. Ku tahu
masih terbingkai kesedihan dalam benaknya, semenjak ayah dan ibu pergi untuk
selamanya dalam sebuah kecelakaan mobil. Sekarang, aku tinggal bersama om dan
tanteku yang telah menganggapku dan kakakku sebagai seorang anak sendiri.
Memang, mereka tidak mempunyai keturunan setelah pernikahannya. Aku sangat
bahagia dan berterima kasih kepada mereka karena mau merawatku dan kakakku.
Sore itu, ku dapati dirinya duduk
sendiri di taman belakang rumah. Di tangan kirinya sedang memegang sebuah foto,
dia menatapnya begitu dalam penuh makna. Tangan kanannya memegang sebuah pot
kecil yang terbuat dari kayu, diletakkannya di pangkuannya. Bunganya adalah
Edelweis, bunga kesayangannya. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya dan
mengobrol beberapa kalimat yang bisa membuatnya tersenyum. Aku melontarkan
pertanyaan mengapa dia begitu suka dengan bunga putih yang tak pernah layu yang
dipegangnya itu. “Bunga ini disebut juga bunga abadi dan kakak ingin sekali
seperti bunga ini.” Jawabnya singkat sambil menatap bunga itu. Meski aku tak
begitu paham, aku tak melontarkan pertanyaan lagi kepadanya. Aku sedang jalan
sendiri di lorong sekolah saat jam istirahat. Sahabatku Masya entah ke mana.
Tiba-tiba ku dengar teriakan di belakangku dari kejauhan.
“Claraaaaa.. tunggu..!!” aku berbalik dan berhenti. Itu dia,
Masya telah datang. Dia berhenti di depanku, napasnya tergesa-gesa.
“Hei, ada apa?” Tanyaku padanya.
“Itu.. Kak Dinda.”
“Iya, kakakku kenapa?”
“Kak Dinda, pingsan lagi. Sekarang berada di UKS.” Aku kaget
dan langsung pergi menuju UKS. Masya mengikutiku, kali ini aku tak akan
menuruti keinginan kakakku untuk dibawa pulang ke rumah, jika dia meminta. Kali
ini aku akan membawanya ke rumah sakit. Aku sangat cemas.
Hari demi hari, bulan demi bulan
berlalu. Pada saat dimana kakakku telah berbaring dengan tubuhnya yang lemah dan
wajah yang pucat. Aku tak pernah jauh darinya, ku manfaatkan waktu sepulang
sekolah untuk menjaganya. Masya sahabatku, om dan tanteku membantuku merawat
kakakku ini. Kanker darah (Leukimia) stadium 4. Itu yang dikatakan dokter
padaku. Ternyata kakakku benar-benar menyembunyikan sesuatu. Selama ini dia
sangat menderita. Dia melawan sakitnya sendiri tanpa sepengetahuanku. Penyakit
itu telah menggerogoti tubuhnya sejak dulu, hanya dia bertingkah seperti orang
sehat yang tak menderita penyakit apa-apa. Sekarang, dia dilemahkan oleh
penyakit itu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku pasrah pada
Allah SWT.
Di bulan April, seminggu sebelum
ulang tahunnya, ketakutanku akan kehilangan kakakku. Terjadi, aku tak bisa
membendung air mata ini. Masya mencoba menenangkanku hari itu, tapi aku tak
bisa. Air mataku tak hentinya mengalir. Mengapa aku harus mengalami kejadian
ini. Kehilangan seseorang yang sangat ku sayangi untuk kedua kalinya, setelah
ayah dan ibu. Setelah mereka meninggalkan tempat terakhir kak Dinda, aku
tinggal untuk beberapa menit dan duduk di sampingnya. Masya berdiri di
belakangku. Aku mengeluarkan sebuah bunga dari dalam tasku dengan pot yang
kecil terbuat dari kayu juga. Sebuah benda yang sengaja ku beli sebulan yang
lalu sebagai kado ulang tahun kak Dinda nanti. Ku letakkan di depan nisan itu.
“Ini akan menemanimu, Kak.” Bisikku. Ku menarik napas
panjang dan menghembuskannya. Kemudian ku beranjak pergi, tak lupa ku kirimkan
doa untuknya, untuk ibu dan untuk ayah. “Aku yakin, Ayah, Ibu dan Kak Dinda
tidak benar-benar pergi meninggalkanku. Mereka masih berada di sisiku..”
Batinku.
Analisis :
Tema : Kesedihan
Penokohan :
-
Clara : Penyayang, baik hati
-
Masya : baik hati
-
Kak Dinda : penyayang
Latar tempat : di sekolah, di taman belakang rumah dan di
rumah sakit
Latar waktu : Pagi hari, sore hari
Latar suasana : mencemaskan, mengharukan
Alur : maju
Sudut pandang : pengarang sebagai
Gaya bahasa : mudah dipahami
Amanat :
- Sayangilah orang yang kita sayangi sebelum mereka pergi meninggalkan kita dan takkan pernah kembali lagi.
- Jadilah orang yang terbuka, jangan menanggung beban masalah sendirian.
Cerpen 2 (karya sendiri)
Long Distance Relationship
Arsyi terbangun karena
terkejut melihat sang ibu sedang salat di kamarnya. Ternyata waktu sudah
menunjukkan pukul 05.05 wib. Arsyi pun lalu terbangun dan bersiap melaksanakan
salat subuh. Setelah salat subuh, ia mengecek ponsel miliknya kali saja ada
pesan masuk dari Fadlan. Ternyata tidak ada pesan masuk. Sudah 3 hari mereka
tidak saling berkomunikasi. Fadlan adalah kekasihnya. Mereka sudah menjalani sebuah
hubungan selama 1 tahun sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Sudah 4 bulan
ini mereka menjalani hubungan jarak jauh atau yang disebut Long Distance
Relationship (LDR) antara Jakarta-Bandung untuk melanjutkan pendidikan mereka
masing-masing. Sebulan terakhir ini mereka sudah tidak lagi menjalin hubungan
yang harmonis seperti biasanya. Hubungan mereka seperti sudah diujung jalan
yang tak tau menau kemana arah jalannya lagi setelah pertengkaran antara
keduanya. Karena itulah akhir-akhir ini Arsyi menjadi murung dan galau seperti
remaja yang lainnya.
“Arsyi, sarapan dulu nak”
teriak ibunya kepada Arsyi.
“Iya ma, bentar” jawab
Arsyi.
Karena kegelisahannya, ia
slalu mengecek handphonenya seperti berharap ada pesan masuk dari Fadlan.
“Eh lo sarapan dulu deh
jangan main hp mulu, ntar kuliah lo telat.” ucap kakaknya kepada Arsyi.
“Hm..” jawab Arsyi sambil
tersenyum sinis.
“Eh gimana kabar Fadlan?
Lancar gak ldrnya?”
“Gak tau deh, gue
pusing.”
“Tuhkan, udah gue blng
ldr itu emang gak enak.”
Arsyi tidak menjawab dan
langsung berangkat kuliah. Sepanjang perjalanan Arsyi termenung sambil terus
berfikir bagaimana caranya agar hubungan mereka bisa bertahan. Ia tetap slalu
melihat ponselnya menunggu pesan masuk dari Fadlan. Ia sebagai wanita, gengsi
untuk mengirimkan pesan terlebih dahulu. Namun jauh dilubuk hatinya, ia sangat
merindukan Fadlan.
Setelah sampai di kampus,
Arsyi langsung masuk ke dalam kelas dan memainkan game yang ada diponselnya.
“Syi!!” teriak Caca yang
berada di depan pintu kelas.
Arsyi terkejut dan
langsung tersenyum ke arah Caca.
“Gimana syi? Lo udah
baikan sama Fadlan?” tanya Caca ketika duduk disamping Arsy.
“Ya gitu deh ca. Gue
sendiri juga nungguin dia ngabarin gue. Tp setelah pertengkaran yang kemarin
dia gak ada hubungin gue. Sebenernya gue gak mau berantem, apa lagi kalau udah
beda kota gini, kan jadi susah. Biasanya kalau masih sekota kan bisa ketemu
langsung terus baikan.” Jawab Arsyi.
“Kenapa gak lo aja yang
hubungin dia duluan?”
“Kan posisinya gue yang
lagi marah sama dia.”
“Yaudah lo tunggu aja deh
dia hubungin lo.”
“Kalau sampai besok dia
masih gak hubungin gue, gue yang bakal hubungin dia.”
“Jangan dipikirin banget
deh syi. Lo juga jangan bawa masalah ini ke perkuliahan lo.”
“Iya ca. Gue bisa
selesein.”
Sepulang
kuliah, tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Ia terkejut namun ia juga
senang dan merasa lega. Isi pesannya adalah “Jangan lupa makan dan salat.”
Arsyi hanya menjawab “Ya, kamu juga.” Lalu tidak ada balasan lagi dari Fadlan.
Arsyi pun tetap menunggu balasan pesan dari Fadlan.
Malam
harinya Fadlan mengirimkan pesan kepada Arsyi. Isi pesannya seolah-olah Fadlan
sudah jenuh dengan hubungan mereka dan meminta pendapat Arsyi apa yang harus
mereka lakukan. Arsyi terdiam dan meneteskan air mata. Ia memperkirakan bahwa
Fadlan ingin menyudahi hubungan mereka. Arsyi sudah tidak tahan lagi dan
langsung menghubungi Fadlan, ketika itu suara Fadlan terdengar sangat santai, berbeda
dengan suara Arsyi yang terdengar serak
sambil menangis. Arsyi sudah berniat ingin memutuskan Fadlan saat itu. Tapi
ketika mendengar suara Fadlan ia merasa seperti rasa rindu yang ia rasakan
selama beberapa hari sudah hilang. Ia tidak jadi memutuskan hubungannya dengan
Fadlan. Ketika itupun mereka berbicara seperti tidak ada kejadian pertengkaran
sebelumnya. Arsyi merasa lega dan kembali tersenyum.
Keesokan
harinya, mereka berkomunikasi seperti biasanya. Fadlan memberitahu kepada Arsyi
bahwa lusa ia akan mengikuti kegiatan kampus selama 3 hari di sebuah desa yang
tidak ada listrik dan susah sinyal. Kemungkinan besar mereka akan tidk
berkomunikasi lagi selama 3 hari. Namun kali ini Arsy tidak terlalu khawatir.
Di benaknya ia hanya khawatir kalau ada wanita cantik yang menarik
perhatiannya.
Sudah
3 hari setelah tanpa komunikasi, akhirnya Fadlan menghubungi Arsyi mengabarkan
bahwa ia sudah pulang dan menceritakan kejadian yang ia alami selama berada di
desa itu. Fadlan juga mengatakan bahwa ia sangat merindukan Arsy.
Keesokan
harinya, merek bertengkar kembali karena masalah sepele. Kali ini Arsy tidak
memperdulikn Fadlan lagi karena ia juga sudah mulai jenuh.Lalu selama 3 hari
mereka tidak saling berkomunikasi hingga tiba di hari Kamis, Fadlan mengirimkan
pesan kepada Arsy. Isi pesannya sama seperti kemarin, Fadlan terlihat sperti
sudah jenuh dengn hubungan mereka. Fadlan pun meminta hubungan mereka break
untuk beberapa saat sampai keduanya sudah baik hatinya. Pada saat itu Arsy
menangis dan tidak setuju dengan keinginan Fadlan. Arsy terus memancing Fadlan
agar Fadlan mengatakan apa yang ingin ia katakana. Arsy tidak ingin memutuskan
Fadlan, ia masih tetap bertahan. Ia juga takut menyesal jika ia memutuskan
Fadlan. Ia terus memancing agar Fadlan mengatakan hal itu, namun belum ada
balasan lagi dari Fadlan.
Keesokan
harinya dengan matanya yang terlihat sembab akibat menangis, ia duduk bersama
teman-temannya, ia berusaha mencari kebahagiaan yang bisa menghiburnya pada
saat itu, dan ia pun tertawa bersama teman-temannya seketika upa akan kesedihan
dihatinya. Lalu tiba-tiba Fadlan mengirimkan pesan kepadanya. Dan isi pesannya
adalah Fadlan memutuskan hubungan mereka. Spontan Arsyi langsung menangis dan
langsung memeluk teman yang ada disampingnya. Ia tidak berani membaca pesan
panjang yang dikirimkan oleh Fadlan. Teman-temannya lah yang membaca pesan itu.
Dan akhirnya Arsyi membaca pesan itu sambil terus mengeluarkan air mata. Ia
merasa seperti kehilangan, ia tidak bisa berhenti menangis hingga dosen masuk
dan keluar kelas. Teman-temannya menghibur, namun ia masih terus menangis seperti tidak
menyangka akan terjadi seperti ini. Arsyi merasa terpukul dan dengan berat hati
ia menerima keputusan Fadlan. Akhirnya mereka berpisah. Fadlan tetap
mengirimkan pesan kepada Arsyi seperti merasa sangat sedih dan berkata bahwa
ini adalah keputusan terberat Fadlan. Ia merasa seperti tidak ada tujuan lagi
dihubungan mereka karena keegoisan Arsy, sifat kekanak-kanakan Arsyi dan sifat
cemburu Arsyi yang berlebihan. Ia tetap merindukan dan masih menyayangi Arsyi,
Arsyi pun begitu. Fadlan slalu mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi di
masa depan.
Akhirnya
mereka menjalani hari-hari seperti 2 tahun yang lalu sebelum mereka bertemu.
Arsyi masih merasa sedih ketika mengingat dan merindukan Fadlan yang sekarang
sudah bukan siapa-siapanya lagi. Ia menjalani dan menikmati hari-harinya, namun
seperti ada yang hilang, yaitu Fadlan. Namun beberapa hari setelah mereka
putus, Arsyi mengetahui bahwa Fadlan sudah berteman dekat lebih dari teman
biasa dengan seorang wanita yang bernama Adinda. Ia mencari tahu hubungan
mereka berdua, mereka adalah teman sekelas di kampus dan ternyata mereka sudah
dekat ketika Arsyi dan Fadlan masih memiliki hubungan. Hati Arsyi semakin
hancur berkeping-keping. Ternyata itu juga salah satu alasan Fadlan memutuskan
Arsyi. Ia merasakan sakit hati yang mendalam hingga ia tidak ingin lagi
mengenal Fadlan.
Artikel Profil (berdasarkan wawancara langsung)
Julia
Susanty adalah seorang wanita yang lahir di Kijang, 17 Juli 1997. Ia tinggal di Jalan Nusantara km 17, Kijang. Ia
pernah bersekolah di Tk Mutiara, SDN 002 Tanjungpinang Timur, SMPN 7
Tanjungpinang dan SMAN 2 Tanjungpinang. Sekarang ia sedang melanjutkan
pendidikannya di Universitas Medan Area (UMA), pada Fakultas Ekonomi (Fekon)
jurusan akutansi. Ia memilih melanjutkan pendidikannya di Universitas Medan
Area karena itu salah satu perguruan tinggi swasta di Medan yang sudah
terakreditasi A dan merupakan salah satu universitas yang tidak diblacklist
dari perusahaan. Ia tidak melanjutkan pendidikan di kotanya, yaitu kota
Tanjungpinang karena ia sudah niat
kuliah di Medan sejak ia masih SMA. Jurusan yang ia pilih sesuai dengan
cita-citanya karena pada waktu SMA ia sudah mulai mengenal akuntansi hingga ia
tertarik unuk mempelajari akuntansi lebih dalam. Ia bisa mengikuti semua mata
kuliah yang ada di jurusan perkuliahannya, hanya saja ia sedikit kesulitan jika
suasana belajar tidak berjalan baik dan jikaa materinya sulit untuk dipahami.
Ia
sudah bisa membiasakan diri di kota orang. Hanya butuh waktu sekitar 1 bulan
untuk bisa membiasakan diri di kota Medan. Mulai dari cara berbicara hingga dapat
mengartikan bahasa daerah yang ada di kota Medan. Dengan cara beradaptasi
dengan teman asal kota tersebut akan membuat ia lebih mudah beradaptasi di kota
Medan. Dalam setahun hanya 2 kali ia pulang ke kota asalnya, yaitu sewaktu hari
raya besar dan libur semester. Tetapi jika ada libur panjang selain hari raya
dan libur semester, ia pulang ke kota asalnya. Ia sudah terbiasa berangkat
sendirian tanpa didampingi teman atau orang lain.
Target
masa perkuliahannya adalah 4 tahun. Setelah lulus S1, ia akan melanjutkan ke S2
tetapi sebelum melanjutkan pendidikan S2, ia akan bekerja karena ia masih ingin
mencari pengalaman kerja. Namun, ia ingin mencari pekerjaan di kota lain selain
di kota Medan karena ia tertarik mencari pengalaman. Ia tidak ingin bekerja di
kota asalnya karena menurutnya bahwa kemungkinan besar prospek pekerjaan untuk
seorang akuntan di kotanya sangat kecil. Ia ingin bekerja di sebuah perusahaan
besar atau di bank sesuai prospek kerja seorang akuntan. Jika ia tidak memiliki
kesempatan bisa bekerja di sebuah perusahaan besar ataupun di bank, ia akan membuat
usaha jasa auditing. Lalu, setelah itu ia ingin melanjutkan pendidikannya di
luar negeri, yaitu di Singapura engan jurusan yang sama. Jika pada saat itu ia
sudah mendapatkan pekerjaan di dalam negeri, maka pekerjaannya ia tinggalkan
karena ia hanya ingin mendapatkan pengalaman etika berbisnis di negerinya sendiri,
lalu di aplikasikan saat bekerja di luar negeri nanti. Jika ketika ia sudah
lulus S2, ia akan bekerja di Singapura dan membuka sebuah usaha. Jika usahanya
tidak laku, ia akan minta bantuan dengan kerabatnya. Ia tidak kembali ke
negerinya sendiri jika ia sudah mendapatkan pengalaman di Singapura. Tetapi ia
tidak menetap, hanya sebagai warga Negara asing. Selain menambah visa Negara,
bergaji uang dollar, kehidupannya akan terjamin.
Kamis, 19 Mei 2016
Analisis Dongeng
"Asal Usul Dua Belas Shio Binatang"
Dalam sekejap, para
binatang menerima surat-surat itu, yang isinya bahwa besok pagi di tahun baru,
Dewa akan memilih binatang yang paling dahulu datang kesini, dari nomor stu
smapai dengan nomor dua belas. Lalu, setiap tahun depa akan mengangkat satu
persatu dari mereka sebagai Jenderal berdasarkan urutan.
Para binatang sangat bersemangat dan tertarik
dengan hal itu. Mereka sangat ingin menjadi Jenderal. Tetapi ada satu binatang
yang tidak membaca surat itu, yaitu Kucing yang suka bersantai dan tidur. ia
hanya menengar berita ini dari Tikus. Tikus yang licik menipunya dan
memberitahu bahwa mereka harus berkumpul di tempat Dewa lusa tanggal 2 Januari,
padahal seharusnya mereka berkumpul besok pagi tanggal 1 Januari.
Semua binatang
bersemangat dan memikirkan tentang kemenangan dan mereka semua tidur cepat.
hanya Sapi yang langsung berangkat malam itu juga karena ia sadar kalau ia
berjalan sangat lambat. Tikus yang licik meihatnya lalu meloncat dan menumpang
ke punggung Sapi, tetapi Sapi tidak menyadari hal itu.
Pagi harinya, saat hari
masih gelap, Anjing, Monyet, Babi hutan, Harimau, Naga, Ular, Kelinci, Ayam,
Domba dan Kuda, semuanya berangkat berlari menuju ketempat Sang Dewa.
Saat matahari mulai
terbit yang pertama kali sampai di tempat tinggal Dewa adalah Sapi. tapi
kemudian Tikus melompat ke depan dan mendarat tepat dihadapan Dewa, maka tikus
pun menjadi yang pertama.
Dibelakang mereka,
tibalah Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan
Babi hutan datang berurutan. Dengan demikian mereka ditetapkan sebagai pemenang
satu sampai dua belas sesuai dengan urutan kedangannya. Dua belas ekor binatang
ini kemudian disebut dengan 12 Shio Binatang.
Para binatang itu
merayakan kemenangan dan berpesta pora sambil mengelilingi Sang Dewa. Lalu,
tiba-tiba si Kucing datang dengan wajah yang sangat marah. Ia mencari tikus
yang telah menipunya sehingga ia datang terlambat. Kucing pun mengejar Tikus
kesana kemari.
Sejak itu mulailah era
dua belas shio binatang dimulai dari yang pertama tahun Tikus, lalu Sapi,
kemudian Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan
Babi Hutan. Kucing yang tidak berhasil masuk ke dalam Dua Belas Shio Binatang
sampai sekarang masih menggejar Tikus kesana kemari karena telah menipunya.
Analisis :
1. Tema :
Kerja Keras
2. Penokohan :
- Dewa : Protagonis
- Tikus : Licik, mau menang
sendiri dan suka berbohong
- Sapi :
Tidak mau menyerah
- Kucing : Pemalas, pemarah dan
ceroboh
-
Kelinci, Kuda, Domba, Ayam, Anjing, Babi Hutan, Harimau, Ular dan Naga :
Bekerja
keras
3. Latar tempat : Negeri dan tempat tinggal Dewa
Latar waktu : Malam hari, Pagi hari
Latar suasana : gembira, sedih, menegangkan.
4. Alur :
Maju.
5. Sudut Pandang : Orang ketiga.
6. Amanat :
- Sesuatu yang dilakukan
dengan usaha, maka akan membuahkan hasil yang baik.
- Jangan curang demi
keuntungn diri sendiri
- Bekerja keraslah dengan
sesuatu yang kita inginkan.
Selasa, 17 Mei 2016
Pengalaman Nyata Bersama Dosen "Asyiknya Belajar Bersama Pak Satria"
Hampir setahun yang lalu,
waktu kami masih di semester 1, kami mengambil mata kuliah Bahasa Inggris.
Dosennya adalah pak Satria Agust. Pada saat dipertemuan pertama mata kuliah
bahasa inggris, pak Satria tidak hadir, padahal kami semua sudah menunggu.
Karena awal pertemuan, ketua kelas kami belum memiliki nomor ponsel pak Satria.
Maka dari itu kami belum bisa mengkonfirmasi hadir tidaknya pak Satria.
Dipertemuan kedua juga sama seperti itu, pak satria tidak hadir. Kami merasa
sedikit kesal karena perjalanan ke kampus lumayan jauh tetapi setelah tiba di
kampus ternyata dosen yang kami tunngu tidak hadir lagi. Akhirnya dipertemuan
ketiga pak Satria hadir. Kami merasa lega. Jika dipertemuan ketiga ini pak
Satria tidak hadir, ntah bagaimana cara kami membagi waktu untuk mengganti
pertemuan sebelumnya.
Dipertemuan ketiga ini
menjadi pertemuan pertama kami.
“Good morning” ucapnya ketika langkah
pertamanya masuk ke pintu kelas.
“Good morning too, sir” balas kami
serentak
“how are u today?”
“I’m fine, thank you.”
Setelah itu pak Satria
seperti menunggu dan memberi kode ke kami. Ia menunjuk dirinya sendiri sambil
tersenyum. Kami semua bingung. Ternyata ia berharap kami menanyakan kabarnya
juga. Dan kami pun mengulangnya.
“I’m fine, thank you. And you?”
“life always treat me well, thanks”
jawabnya.
Begitulah seterusnya
ketika pak Satria menyapa kami sewaktu ia mengajar kami di dalam kelas.
Pak Satria memiliki suara
yang lantang. Ketika ia mengajar, ia sangat lucu dan tidak membosankan. Namun
kadang mengejutkan. Ia suka dengan siswa yang aktif, suka bertanya dan menjawab
ketika ditanya walaupun jawabannya tidak benar.
Dari SMP hingga sekarang,
aku suka pelajaran bahasa Inggris karena aku suka dengan hal yang berkaitan
dengan bahasa Inggris. Awalnya aku mengira jika pak Satria ini adalah dosen
yang galak dan aku akan sulit mengikuti pelajarannya. Namun, ternyata pak
Satria adalah dosen yang baik, ramah, menantang dan tidak membosankan. Ia
mengajar dengan baik sehingga aku sangat mudah memahami pelajaran yang ia
berikan. Setiap ada pertanyaan, aku selalu menjawab dan aku juga selalu
bertanya, sehingga lama kelamaan pak Satria mengenal namaku. Setiap ada tugas
atau ketika ia memberi latihan di kelas, ia slalu bertanya kepadaku dan
untungnya aku bisa menjawab dengan jawaban yang benar. Sewaktu sedang membahas
tugas di kelas, perhatiannya selalu tertuju kepadaku seolah-olah memberi kode
agar aku yang menjawab ketika teman-teman di kelas tidak bisa menjawab atau
menulis kata-kata yang menggunakan
bahasa Inggris dengan benar. Ketika mengajar pun ia suka memberi kata-kata
motivasi untuk kami semua. Karena itu, aku selalu tak sabar menunggu hari Kamis
karena ada pelajaran bahasa Inggris. Hasil Ujian Tengah Semester (UTS) dan
Ujian Akhir Semester (UAS) bahasa Inggris, aku mendapatkan hasil yang sangat
memuaskan.
Walaupun aku dari jurusan
Bahasa Indonesia, tetapi aku senang bisa
belajar mata kuliah bahasa Inggris. Apa yang ia ajarkan selalu memberi
pengetahuan yang baru untukku. Aku merasa semakin memiliki pengetahuan yang
lebih luas tentang bahasa Inggris dari sebelum aku belajar dengan pak Satria.
Aku mulai lebih menyukai dan tertarik dengan bahasa Inggris karena pak Satria.
Aku juga termotivasi untuk bisa menguasai bahasa internasional ini. Namun sayangnya
di semester selanjutnya, pak Satria tidak lagi mengajar kami. Kami tidak ada
lagi mata kuliah yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Rasanya seperti hampa
jika tidak belajar bahasa Inggris, bahkan aku ingin sekali pindah ke jurusan
bahasa Inggris.
Walaupun
sudah tidak bertemu dengan pak Satria lagi, aku tetap mempelajari dan mengingat
semua pengetahuan yang berkaitan dengan bahasa inggris yang sudah ia berikan
kepada kami semua.
Thank you so much………….
Puisi (karya sendiri)
"Khayalan"
Kita berjalan,
kita tertawa,
kita habiskan waktu
dengan berjalan di pantai
menikmati ombak yang
kian melaju
angin yang berhembus
kencang
dengan pijakan pasir
putih yang halus
Tangan kita
bergandengan mesra
Tawa canda yang tiada
henti
Rasanya tak ingin ini
berakhir
Tak bisa kubuka
mulutku tuk ucapkan kata-kata yang ingin kukatakan padamu
Perasaan yang tak bisa
kugambarkan
Seluruh waktu yang
kita habiskan bersama
Begitu indah……
Di dalam mimpiku, kau
bersamaku
Kita akan menjadi apapun yang kumau
Kita akan menjadi apapun yang kumau
Mungkinkah ini akan me
jadi hari terindah?
Hari terindah antara
kau dan aku
Atau ini hanya aku dan khayalanku saja………..
Atau ini hanya aku dan khayalanku saja………..
Cerpen 1 (karya sendiri)
"Tok Munir"
Pagi
ini aku ada jadwal perkuliahan. Rasanya sangat malas sekali karena cuaca yang
sangat panas, ditambah lagi dengan kampusku yang sangat jauh dan membutuhkan waktu
30 menit untuk sampai disana. Sebelum pergi, seperti biasa aku ke kamar atok.
Orang-orang sering memanggilnya tok Munir. Setelah perceraian orang tuaku 10
tahun yang lalu, aku dirawat dan diasuh oleh atok. Ayahku sudah menikah lagi,
sedangkan ibuku tinggal bersama adikku di rumahnya. Atok hanya tinggal bersam ku
dan anak bungsunya yang belum menikah setelah kepergian istrinya beberapa tahun
silam. Karena kami suku Minang, aku memanggil anak bungsu atok dengan sebutan
etek/tek yang berarti tante.
Aku
masuk ke kamarnya untuk melihat keadaannya karena beberapa hari ini ia sakit.
“Tok,
bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku
“Alhamdulillah
sudah mendingan” jawabnya
“Syukurlah.
Kalau begitu Natalia berangkat kuliah dulu ya tok” (sambil mencium tangan atok)
“Iya,
hati-hati”
Beberapa hari ini atok hanya terbaring
lemah di kamarnya. Hal ini yang membuatku gelisah saat aku tidak berada di
rumah karena atok hanya sendirian di rumah. Anak bungsunya yang bernama Lita
pun harus bekerja setiap hari dari pagi hingga sore hari.
Aku baru saja pulang dari kampus. Sore
ini keadaan atok terlihat lebih membaik dari sebelumnya. Ia memintaku untuk
membeli indomie di warung. Aku bingung, karena selama aku tinggal bersamanya
aku dan tek lita tidak dibolehkan memakan indomie instan oleh atok. Mungkin
dalam waktu sebulan kami hanya 2 kali memakan indomie instan. Itu pun tanpa
sepengetahuan atok.
Hari sudah malam, tiba-tiba atok
memanggil dan mengajak kami berdua untuk memakan indomie buatannya. Tentu saja
kami merasa kaget dan heran. Dan akhirnya kami bertiga makan bersama di ruang
makan.
Sehabis makan, setelah mencuci
piring, atok memintaku memijat bagian kakinya. Aku sudah mengantuk dan rasanya
ingin tidur. Sudah 1 jam lebih aku mimijat kakinya, namun belum ada tanda-tanda
untuk disuruh berhenti. Padahal aku sangat lelah. Biasanya ia memintaku
memijatnya hanya sekitar 15 menit. Tapi ternyata tidak untuk hari ini.
Lagi-lagi aku harus kuliah pagi.
Seperti biasa, sebelum berangkat ke kampus, aku ke kamar atok untuk melihat
keadaannya dan berpamitan. Hari ini aku tidak terlalu gelisah karena ada tek
Lita yang menjaganya di rumah.
Sungguh ini hari yang sangat
melelahkan. Baru saja sampai rumah, atok memintaku untuk memijat punggungnya di
ruang tengah. Tentu saja aku turuti walaupun aku merasa sangat lelah. Ia
memintaku menempelkan daun jarak di punggungnya untuk menurunkan panas tubuhnya.
Hari ini tubuhnya benar-benar terasa panas. Setelah selesai, aku ke dapur untuk
mencuci piring dan memasak nasi.
“Natalia,
coba lihat ke ruang tengah” bisik tek Lita tiba-tiba
“Memangnya
ada apa?” tanyaku
Langsung saja aku menuju ruang
tengah. Ternyata ada aroma yang tidak sedap karena lantai di ruang tengah
hingga ke kamar atok ada kotoran atok. Sungguh ini mengejutkan dan menyebalkan
karena kami harus membersihkan lantai itu. Kami tidak tahu apa yang telah
terjadi. Kami pun langsung membersihkan kotoran tersebut yang berceceran di
antai ruang tengah.
Setelah itu, aku dan tek Lita ingin
melihat keadaan atok di kamarnya. Tetapi, tidak sengaja kami melihatnya sedang
duduk di atas kasur tanpa pakaian. Kami tidak jadi menghampirinya karena tidak
ingin mengganggunya.
Lalu, aku melanjutkan tugasku untuk mencuci
piring dan memasak nasi. Tek Lita sedang memasak bubur untuk ayahnya. Beberapa
saat kemudian bubur itu sudah matang dan ia pun langsung menuju ke kamar
ayahnya untuk menyuapinya.
Setelah menyelesaikan tugasku, aku
duduk di dapur untuk beristirahat sebentar. Tiba-tiba…………..
“Natalia….Natalia!!!!!!”
teriakan tek Lita memanggilku.
Aku
kaget dan langsung berlari menuju kamar atok. Aku masuk ke kamarnya dan melihat
atok terbaring yang sudah tidak sadarkan diri.
“Ayah…jangan
pergi dulu” kata tek Lita sambil terisak tangis.
“Atok,
atok kenapa? Bangun tok, istigfar” kataku sambil mmegang tangannya.
Kami berdua panik. Langsung saja aku
memberi kabar kepada ibuku.dan berlari keluar rumah untuk meminta bantuan
tetangga. Kami membawa atok ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku merasa tidak
tenang, begitu juga dengan tek Lita yang terus menangis meneteskan air mata.
Setelah tiba di rumah sakit, atok dibawa ke ruang UGD. Kami hanya bisa berdoa
meminta tolong kepada Allah Swt.
Dan
ternyata atok sudah dipanggil oleh Allah Swt. Spontan kami langsung menangis.
Rasanya sudah tidak terbendung lagi. Selama aku dirawatnya 10 tahun, aku belum
pernah mengucapkan terimakasih kepadanya atas semua kebaikan yang ia berikan
untukku. Rasanya ingin sekali aku membangunkannya dan berharap ia kembali
hidup, tapi itu semua mustahil dan tidak akan mungkin terjadi.
Langganan:
Komentar (Atom)